Langsung ke konten utama

Berjuang Tidak Mengenal Musuh.

Rakyat mati merdeka tetapi tidak tahu  tentang Proses kemerdekaannya ? Rakyat Hanya berpikir  Mengharapkan PBB akan memutuskan Kemerdekaan itu' adapula rakyat masih mengharapkan Amerika dan Belanda Untuk membatu Proses Kemerdekaan Papua. ya itu wajar masih tidak papa karena Ketidaktahuan rakyat dan kurangnya keterlibatan dalam diskusi2 dan ketidak libatan  aktivisme perjuangan juga ketidaktahuan mengenali Musuh yang dilawan?

Tetapi yang Paling menakutkan adalah Mereka yang menamakan aktivis dan Pejuang Tetapi masih terus Mengharapkan Keputusan  (PBB) untuk kebebasan Papua dan Mengharapkan Gerakan  Diplomat Bernegosiasi , Kelakuan sepeerti ini bisa dinamakan Berjuang tetapi Tidak mengenal Musuh siapa yang dilawan? Dan siapa Yang harus berteman?

Sering kita ketahui Bahasa-Bahasa Aktivis  tentang ( Kolonial, Kapitalis, Dan Imperealis) Adapula yang paling bahayanya lagi Revolusioner? Pengunaan beberapa kata ini sering diungkapkan tetapi Siapa sebenarnya Kolonial, Kapitalis, Imperealis dan Revolusioner itu? 

Sering digunakan dalam perlawanan bahwa Lawan Kolonialisme,  Lawan Kapitalisme dan Lawan Imperealisme tetapi, Bagimana dengan Aktivis Yang katanya Revolusioner Mengharapkan Diplomat untuk Bernegosiasi DAN BERKOMPROMI Dengan Negara Negara yang berkepentingan Besar di Papua dan Mengharapkan Keputusan PBB? 

Apakah Kita dibutahkan Oleh Diplomat dengan Tipu dayanya? Bagimana dengan keterlanjutan mengunakan kata lawan kolonialisme,  Kapitalisme dan Imperealisme? Itu bukti bahwa ketidaktahuan Musuh yang dilawan  dan ketidaktahuan memulai dari mana serta ketidakthuan Berteman dengan Siapa?

Jika  Mengharapkan Mereka yang sedang Berkompromi Dengan kapitalis Maka Jangan Katakan seorang Revolusioner? Begitu pula Mengharapakan PBB adalah Mimpi siang Bolong. Karena PBB adalah Anak Kandung Kapitalisme yang rakus Dan Berada dibawah Kekuasaan IMperealisme.

#Kritikan

By: Proletar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gereja Membiarkan anak-anaknya menjadi piatu!

Gereja Membiarkan anak-anaknya menjadi piatu! Made Supriatma, menulis: Gereja Papua: Sama seperti di Timor Leste dulu, gereja-gereja (baik Katolik maupun Protestan) sangat peduli dengan NKRI. Itulah sebabnya, karena kasus Ahok, mereka seperti cacing kepanasan. Mereka mau menjadi penyelamat NKRI dan Pancasila.  Hanya saja ada kontras yang amat tajam disini. Cacing mereka merasa nyaman dan tenteram justru ketika umat mereka dibunuh dan disiksa.  Saya ingat sekitar dua tahun lalu, beberapa seminarian Fransiskan dan suster-suster turun ke jalan untuk menyerukan penghentian pembunuhan dan penyiksaan terhadap anak-anak muda Papua. Bapa Uskup langsung merasa jubahnya terbakar. Kabarnya para frater dan suster ini kena damprat.  Selama beberapa hari ini, saya membaca para intelektual Papua menyuarakan kegelisahan mereka. Kawan-kawan saya mempertanyakan mobilisasi dukungan untuk Ahok ini. Salah satunya merumuskan dengan sangat baik:  "Tapi manakah lilin...

Ini Puisi Jalanan

Ini puisi jalanan Tanda kami belum menyerah Saat keadilan dirumuskan Dan ketidakadilan bertambah Ini puisi jalanan Tanda kami belum lelah Saat kemanusiaan dibangkaikan Dan kepentingan borjuis meningkat Ini puisi jalanan Tanda kami masih punya darah Saat sekian jiwa-jiwa berkongsi Melebur kabur dalam perangkap tirani Ini puisi jalanan Tanda kami belum berserah Di tengah ratusan kompromi Kami 'kan tetap juang berontak Ini puisi jalanan Tanda kami belum menyerah Tanda kami menolak menyerah Tanda kami belum lelah Tanda kami masih punya nafas Oyehe, 15/02/18 Aleks Giyai

MEREBUT KEMBALI KEMERDEKAAN WEST PAPUA

MEREBUT KEMBALI KEMERDEKAAN WEST PAPUA Oleh: Femmy Telenggen Papua adalah wilayah bekas Jajahan oleh Kolonial Belanda & kini indonesia menjajah itu FAKTA bukan MITOS. Belanda pernah membina & mempersiapkan kerangka negara WEST PAPUA yang kemudian dianeksasikan kedalam bingkai indonesia dengan cara yang tidak demokratis dan perlakuan tidak manusiawi. Rakyat Papua harus rebut kembali melalui jalur yang demokratis yang dijunjun tinggi dimata dunia internasional melalui Mekanisme REFERENDUM. Referendum adalah jalur yang demokratis untuk menyelesaikan Status Politik Bangsa West Papua. Sebagian besar dari rakyat indonesia meyakini bahwa West Papua adalah indonesia. Bukan! West Papua bukan indonesia. Tak ada kebahagiaan bagi Rakyat Bangsa West Papua selama masih menjadi bagian NKRI. Dan, tak mungkin Rakyat West Papua bisa hidup baik-baik saja jika kecurangan dan penipuan atas sejarah masih terus berlangsung, Diskriminasi Rasial merajalela hingga semua lini Genosida terus berla...