Langsung ke konten utama

Gereja Membiarkan anak-anaknya menjadi piatu!

Gereja Membiarkan anak-anaknya menjadi piatu!
Made Supriatma, menulis:
Gereja Papua: Sama seperti di Timor Leste dulu, gereja-gereja (baik Katolik maupun Protestan) sangat peduli dengan NKRI. Itulah sebabnya, karena kasus Ahok, mereka seperti cacing kepanasan. Mereka mau menjadi penyelamat NKRI dan Pancasila. 

Hanya saja ada kontras yang amat tajam disini. Cacing mereka merasa nyaman dan tenteram justru ketika umat mereka dibunuh dan disiksa. 

Saya ingat sekitar dua tahun lalu, beberapa seminarian Fransiskan dan suster-suster turun ke jalan untuk menyerukan penghentian pembunuhan dan penyiksaan terhadap anak-anak muda Papua. Bapa Uskup langsung merasa jubahnya terbakar. Kabarnya para frater dan suster ini kena damprat. 

Selama beberapa hari ini, saya membaca para intelektual Papua menyuarakan kegelisahan mereka. Kawan-kawan saya mempertanyakan mobilisasi dukungan untuk Ahok ini. Salah satunya merumuskan dengan sangat baik: 

"Tapi manakah lilin yang sama untuk Arnold Ap, Theys Eluay, Kelly Kwalik, Yawan Wayeni, Filep Jees Karma-Linus Hiluka-Steven Itlay, dkk yg dipenjara sewenang-wenang, Marthen Tabu, Melkianus Awom, Mako Tabuni, Gobay-You-Yeimo-Pigay....dst..dst..dst....???"

Gereja di Papua adalah gereja yang amat asing terhadap umatnya. Gereja ini sangat 'out of touch.' Inilah gereja para penguasa dan penindas. Tidak sedikitpun dia bicara tentang umatnya. Dia lebih sering hadir di acara-acara Kodam, Polda atau Korem ketimbang di rumah-rumah umatnya yang miskin. 

Apakah gereja pernah menengok anak-anak mudanya di Kamp Vietnam -- yang menjadi markas KNPB? Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa bahwa berpikir untuk bicara dengan anak-anak muda ini pun tidak pernah terlintas di pikiran gereja penguasa ini. Ia tidak pernah terpikirkan karena memang Gereja tidak merasa menjadi bagian dari penderitaan dan perjuangan orang Papua. 

Rakyat Papua adalah bangsa piatu. Mereka ditinggal tanpa pembela. Bahkan gereja yang seharusnya menjadi 'rumah singgah' untuk mendapat penghiburan pun menampik mereka.  Rakyat Papua adalah rakyat yang terlunta. Dia ditolak persis seperti Yesus sendiri ditolak oleh pemuka-pemuka agama dijamannya. 

Salah seorang kawan Papua, ketika menanggapi soal lilin untuk Ahok ini, berkata pada saya, "Sa pu lilin akan sa simpan saja karena listrik PLN sering mati!"

Gereja ini telah membiarkan anak-anaknya menjadi piatu!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini Puisi Jalanan

Ini puisi jalanan Tanda kami belum menyerah Saat keadilan dirumuskan Dan ketidakadilan bertambah Ini puisi jalanan Tanda kami belum lelah Saat kemanusiaan dibangkaikan Dan kepentingan borjuis meningkat Ini puisi jalanan Tanda kami masih punya darah Saat sekian jiwa-jiwa berkongsi Melebur kabur dalam perangkap tirani Ini puisi jalanan Tanda kami belum berserah Di tengah ratusan kompromi Kami 'kan tetap juang berontak Ini puisi jalanan Tanda kami belum menyerah Tanda kami menolak menyerah Tanda kami belum lelah Tanda kami masih punya nafas Oyehe, 15/02/18 Aleks Giyai

Labirin Luka Di Bumi Koloni

Labirin Luka Di Bumi Koloni Post Aleks Giay Luka tak akan melihat betapa senyapnya harimu merayakan perihnya dan luka takan pernah berhenti ngilu tanpa kamu yang membalutinya sendiri. Nanar luka membuncah dalam busung dadamu menahan kepedihan dan setianya menyimpang pada relung hati yang terkulai melihat kezaliman penjajah. Kebenaran atas nama masa lalu suatu bangsa ialah luka bagi bangsa kolonial untuk terus menyayati jiwa-jiwa di bangsa koloni dengan tingkap jahanamnya. Cerita panjang terpajang di dinding zaman ke zaman dalam legenda bangsa- bangsa terjajah di jagat raya ini. Bawasanya telah di wahyukan pada suatu negeri koloni akan di lukai dan terus akan terluka dengan laku jahanam tirani melalui tangan jahil serdadunya. Apapun bentuk wajahmu di mata penjajah dalam semua di mensi kehidupan akan terbaca sebagai binatang buruan. Hal itulah yang tercacat dalam buku-buku tua bagi wilayah jajahannya. Popor bedilnya selalu akan melerai dada dan timah bedilnya kapanpun di letuskan...