Langsung ke konten utama

Va Safi'i : GEOPOLITIK INTERNASIONAL BERUBAH

Amerika Serikat tidak lagi mendominasi kekuatan ekonomi dan politik dunia. Inggris dan Perancis sudah kehilangan taringnya, begitu juga dengan Jerman. Kekuatan lama seperti Belanda, Portugal dan Spanyol sudah lama tenggelam.

Suka tidak suka, terima tidak terima, Cina telah tampil sebagai kekuatan baru yang mampu mengimbangi Amerika Serikat, juga Inggris dan Perancis. Sementara itu, Rusia sebagai penerus Uni Soviet sudah mulai menemukan bentuknya, yang sebelumnya tertatih-tatih.

Terlepas dari faktor yang melatarbelakangi mengenai munculnya virus corona, maka pertunjukan kekuatan politik negara-negara tersebut justru sangat terlihat dalam kasus wabah corona ini. Bahwasanya ada PERBEDAAN paradigma dan pendekatan antara negara-negara tersebut dalam merespon wabah corona.

Bisa dibilang bahwa hampir semua negara di dunia ini mengalami kegagapan atau kebingungan tingkat tinggi dalam merespon serangan virus corona di masing-masing negaranya. Rata-rata, lambat merespon.

Di sisi lain, ada gerak cepat yang dilakukan oleh Cina dan Cuba. Di Cina, virus corona mulai muncul sekitar bulan Desember 2019. Saat itu juga, Cuba datang membantu. Sedangkan negara-negara lain memilih bersikap cuek terhadap wabah penyakit di Cina tersebut. Sikap cuek tersebut juga ditunjukkan oleh lembaga kesehatan dunia seperti WHO.

Dengan sigap dan cepat, Cina dengan bantuan Cuba menyiapkan segala sarana dan prasarana penunjang peperangan melawan corona. Rumah sakit didirikan, sedangkan Cuba menyiapkan obat-obatannya. Dan memasuki bulan Maret ini, bisa dibilang Cina telah "terbebas" dari virus corona.

Berhasil menang di negaranya, Cina bersama-sama Cuba dan Venezuela melakukan gerilya ke Italia untuk membantu negara tersebut berjuang melawan virus corona. Hal yang mengejutkan (bagi saya) adalah peristiwa yang terjadi hari ini, dimana Rusia juga mengirimkan dokter militer dan bantuan medisnya ke Italia. Cuba dan Venezuela dengan kemampuan medisnya, Cina dengan logistiknya, sedangkan Rusia dengan dokter militernya. Keempat negara tersebut bergerak di bawah bendera KEMANUSIAAN!

Ya, kemanusiaan. Inilah cara aliansi 4 negara tersebut dalam mengubah GEOPOLITIK internasional. Bagi saya, ini cara yang efektif dan ampuh untuk menarik simpatik negara-negara di dunia, khususnya masyarakat di negara yang terserang wabah corona. Sebuah aksi kemanusiaan di tengah-tengah ketiadaan solidaritas internasional; di tengah-tengah matinya rasa kemanusiaan!

Bagaimana dengan Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Israel, Jepang dan lainnya?

Sekali lagi, mereka bingung dan gagap. Jangankan memberikan rasa solidaritas dan bantuan kemanusiaan pada negara lain, menghadapi kondisi internalnya saja sudah kelabakan. Sesungguhnya, Amerika Serikat dan sekutunya, sebenarnya memiliki kesempatan besar untuk mempengaruhi dan mendapatkan simpatik dunia, lebih-lebih semenjak runtuhnya Uni Soviet tahun 1991. Namun, Amerika Serikat cs lebih senang menggunakan pendekatan BULDOZER (militer dan perang) daripada pendekatan KEMANUSIAAN.

Ma'af, saya tidak bisa melanjutkan tulisan ini. Jari tangan saya terasa sudah keriting mengetik di layar hp.

Oh ya, bagaimana dengan posisi Indonesia dalam perubahan GEOPOLITIK internasional ini? Ma'af, saya tidak bisa menjelaskannya karena takut dikenai Pasal MAKAR bin SUBVERSIF!
---
Boa noite
Selamat malam
#KaumMerah
🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gereja Membiarkan anak-anaknya menjadi piatu!

Gereja Membiarkan anak-anaknya menjadi piatu! Made Supriatma, menulis: Gereja Papua: Sama seperti di Timor Leste dulu, gereja-gereja (baik Katolik maupun Protestan) sangat peduli dengan NKRI. Itulah sebabnya, karena kasus Ahok, mereka seperti cacing kepanasan. Mereka mau menjadi penyelamat NKRI dan Pancasila.  Hanya saja ada kontras yang amat tajam disini. Cacing mereka merasa nyaman dan tenteram justru ketika umat mereka dibunuh dan disiksa.  Saya ingat sekitar dua tahun lalu, beberapa seminarian Fransiskan dan suster-suster turun ke jalan untuk menyerukan penghentian pembunuhan dan penyiksaan terhadap anak-anak muda Papua. Bapa Uskup langsung merasa jubahnya terbakar. Kabarnya para frater dan suster ini kena damprat.  Selama beberapa hari ini, saya membaca para intelektual Papua menyuarakan kegelisahan mereka. Kawan-kawan saya mempertanyakan mobilisasi dukungan untuk Ahok ini. Salah satunya merumuskan dengan sangat baik:  "Tapi manakah lilin...

Ini Puisi Jalanan

Ini puisi jalanan Tanda kami belum menyerah Saat keadilan dirumuskan Dan ketidakadilan bertambah Ini puisi jalanan Tanda kami belum lelah Saat kemanusiaan dibangkaikan Dan kepentingan borjuis meningkat Ini puisi jalanan Tanda kami masih punya darah Saat sekian jiwa-jiwa berkongsi Melebur kabur dalam perangkap tirani Ini puisi jalanan Tanda kami belum berserah Di tengah ratusan kompromi Kami 'kan tetap juang berontak Ini puisi jalanan Tanda kami belum menyerah Tanda kami menolak menyerah Tanda kami belum lelah Tanda kami masih punya nafas Oyehe, 15/02/18 Aleks Giyai

MEREBUT KEMBALI KEMERDEKAAN WEST PAPUA

MEREBUT KEMBALI KEMERDEKAAN WEST PAPUA Oleh: Femmy Telenggen Papua adalah wilayah bekas Jajahan oleh Kolonial Belanda & kini indonesia menjajah itu FAKTA bukan MITOS. Belanda pernah membina & mempersiapkan kerangka negara WEST PAPUA yang kemudian dianeksasikan kedalam bingkai indonesia dengan cara yang tidak demokratis dan perlakuan tidak manusiawi. Rakyat Papua harus rebut kembali melalui jalur yang demokratis yang dijunjun tinggi dimata dunia internasional melalui Mekanisme REFERENDUM. Referendum adalah jalur yang demokratis untuk menyelesaikan Status Politik Bangsa West Papua. Sebagian besar dari rakyat indonesia meyakini bahwa West Papua adalah indonesia. Bukan! West Papua bukan indonesia. Tak ada kebahagiaan bagi Rakyat Bangsa West Papua selama masih menjadi bagian NKRI. Dan, tak mungkin Rakyat West Papua bisa hidup baik-baik saja jika kecurangan dan penipuan atas sejarah masih terus berlangsung, Diskriminasi Rasial merajalela hingga semua lini Genosida terus berla...