Langsung ke konten utama

Perang itu Niscaya!

Perang itu niscaya dalam dunia yang terbagi atas kelas penindas dan tertindas. Selama penjajahan dan exploitasi eksis, maka perlawanan bangsa terjajah (tertindas) juga akan eksis.

Kolonial-kapitalis itu segelintir yang punya kuasa menguras dan menindas. Rakyat tertindas itu mayoritas, yang sadar melawan, tapi juga terhegemoni dalam propaganda penguasa.

Kelompok yang terhegemoni inilah yang lebih menderita sidrom chauvinisme akibat tipu daya penguasa, korbankan akal sehat dan nyawanya demi eksistensi segelintir penguasa kolonial-kapitalis.

Rakyat yang sadar terjajah mengambil solusi perang. Inilah perang pembebasan nasional (war on national liberation). Ini yang sedang dilakukan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di Freeport, West Papua.

Bangsa Papua melalui TPNPB yang memiliki hak hukum untuk menentukan nasib sendiri berhak untuk berperang demi kemerdekaan nasional. Itu dijamin hukum international, sekalipun penjajah mendomestifikasinya.

Dan penjajah yang menggunakan kekuatan untuk menggagalkan hak hukum rakyat West Papua untuk menentukan nasib sendiri adalah melanggar hukum internasional. Prinsip ini diakui seluruh negara-negara di dunia.

Freeport imperialis, number one terroris!
Let the people fight!
War on national liberation!

Victor Yeimo Bunakepo Yeimo Bunakepo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gereja Membiarkan anak-anaknya menjadi piatu!

Gereja Membiarkan anak-anaknya menjadi piatu! Made Supriatma, menulis: Gereja Papua: Sama seperti di Timor Leste dulu, gereja-gereja (baik Katolik maupun Protestan) sangat peduli dengan NKRI. Itulah sebabnya, karena kasus Ahok, mereka seperti cacing kepanasan. Mereka mau menjadi penyelamat NKRI dan Pancasila.  Hanya saja ada kontras yang amat tajam disini. Cacing mereka merasa nyaman dan tenteram justru ketika umat mereka dibunuh dan disiksa.  Saya ingat sekitar dua tahun lalu, beberapa seminarian Fransiskan dan suster-suster turun ke jalan untuk menyerukan penghentian pembunuhan dan penyiksaan terhadap anak-anak muda Papua. Bapa Uskup langsung merasa jubahnya terbakar. Kabarnya para frater dan suster ini kena damprat.  Selama beberapa hari ini, saya membaca para intelektual Papua menyuarakan kegelisahan mereka. Kawan-kawan saya mempertanyakan mobilisasi dukungan untuk Ahok ini. Salah satunya merumuskan dengan sangat baik:  "Tapi manakah lilin...

Ini Puisi Jalanan

Ini puisi jalanan Tanda kami belum menyerah Saat keadilan dirumuskan Dan ketidakadilan bertambah Ini puisi jalanan Tanda kami belum lelah Saat kemanusiaan dibangkaikan Dan kepentingan borjuis meningkat Ini puisi jalanan Tanda kami masih punya darah Saat sekian jiwa-jiwa berkongsi Melebur kabur dalam perangkap tirani Ini puisi jalanan Tanda kami belum berserah Di tengah ratusan kompromi Kami 'kan tetap juang berontak Ini puisi jalanan Tanda kami belum menyerah Tanda kami menolak menyerah Tanda kami belum lelah Tanda kami masih punya nafas Oyehe, 15/02/18 Aleks Giyai

Labirin Luka Di Bumi Koloni

Labirin Luka Di Bumi Koloni Post Aleks Giay Luka tak akan melihat betapa senyapnya harimu merayakan perihnya dan luka takan pernah berhenti ngilu tanpa kamu yang membalutinya sendiri. Nanar luka membuncah dalam busung dadamu menahan kepedihan dan setianya menyimpang pada relung hati yang terkulai melihat kezaliman penjajah. Kebenaran atas nama masa lalu suatu bangsa ialah luka bagi bangsa kolonial untuk terus menyayati jiwa-jiwa di bangsa koloni dengan tingkap jahanamnya. Cerita panjang terpajang di dinding zaman ke zaman dalam legenda bangsa- bangsa terjajah di jagat raya ini. Bawasanya telah di wahyukan pada suatu negeri koloni akan di lukai dan terus akan terluka dengan laku jahanam tirani melalui tangan jahil serdadunya. Apapun bentuk wajahmu di mata penjajah dalam semua di mensi kehidupan akan terbaca sebagai binatang buruan. Hal itulah yang tercacat dalam buku-buku tua bagi wilayah jajahannya. Popor bedilnya selalu akan melerai dada dan timah bedilnya kapanpun di letuskan...