Made Supriatma Menulis
Puluhan orang ditahan, ditelanjangi, dijemur, dan disiksa karena memperingati hari Kemerdekaan West Papua, 1 Desember.
Foto ini diambil di Fakfak, Provinsi Papua Barat. Namun kejadian semacam ini tidak hanya terjadi di Fakfak. Ratusan orang sudah ditahan karena peringatan ini dan karena mengibarkan bendera Bintang Kejora.
Di Abepura, Provinsi Papua, aparat keamanan masuk ke dalam gereja karena melihat ada beberapa mahasiswa membawa bendera Bintang Kejora di dalam misa.
Kita boleh tidak setuju dengan aspirasi kemerdekaan Papua. Namun, moral dan martabat kita sebagai bangsa ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan mereka yang berseberangan dengan kita.
Dengan memperlakukan bangsa Papua seperti ini, kita secara tidak langsung menurunkan derajat kita ke derajat biadab.
Namun, untuk adilnya, perlakuan seperti ini tidak saja menimpa bangsa Papua. Perlakuan seperti ini juga diterima oleh mereka yang berseberangan dengan penguasa -- khususnya mereka yang berusaha membela yang paling lemah dalam masyarakat kita.
Walaupun kita tahu, bangsa Papua mengalami yang jauh lebih buruk daripada yang dilakukan terhadap bangsa sendiri.
Ya, harus kita akui bahwa kita menurunkan derajat bangsa kita ke derajat biadab.
Kecintaan saya pada Indonesia membuat saya sedih sekali karena kita tidak pernah maju dari kebiadaban ini. Bahkan saya kira bertambah parah.
Saya tahu persis, proyek politik untuk membangun Indonesia ini tidak akan pernah berhasil dibangun diatas pondasi kebiadaban. Tidak akan pernah karena kekuatan senjata. Tidak akan pernah dengan kekuatan militer dan aksi polisionil.
Proyek politik untuk membangun Indonesia ini hanya bisa dibangun dengan keadaban. Oleh masyarakat sipil yang bermartabat.
Bangsa-bangsa yang besar meletakkan fondasi dan jiwanya pada keadaban. Bukan kebiadaban.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10157136895048533&id=784153532
Puluhan orang ditahan, ditelanjangi, dijemur, dan disiksa karena memperingati hari Kemerdekaan West Papua, 1 Desember.
Foto ini diambil di Fakfak, Provinsi Papua Barat. Namun kejadian semacam ini tidak hanya terjadi di Fakfak. Ratusan orang sudah ditahan karena peringatan ini dan karena mengibarkan bendera Bintang Kejora.
Di Abepura, Provinsi Papua, aparat keamanan masuk ke dalam gereja karena melihat ada beberapa mahasiswa membawa bendera Bintang Kejora di dalam misa.
Kita boleh tidak setuju dengan aspirasi kemerdekaan Papua. Namun, moral dan martabat kita sebagai bangsa ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan mereka yang berseberangan dengan kita.
Dengan memperlakukan bangsa Papua seperti ini, kita secara tidak langsung menurunkan derajat kita ke derajat biadab.
Namun, untuk adilnya, perlakuan seperti ini tidak saja menimpa bangsa Papua. Perlakuan seperti ini juga diterima oleh mereka yang berseberangan dengan penguasa -- khususnya mereka yang berusaha membela yang paling lemah dalam masyarakat kita.
Walaupun kita tahu, bangsa Papua mengalami yang jauh lebih buruk daripada yang dilakukan terhadap bangsa sendiri.
Ya, harus kita akui bahwa kita menurunkan derajat bangsa kita ke derajat biadab.
Kecintaan saya pada Indonesia membuat saya sedih sekali karena kita tidak pernah maju dari kebiadaban ini. Bahkan saya kira bertambah parah.
Saya tahu persis, proyek politik untuk membangun Indonesia ini tidak akan pernah berhasil dibangun diatas pondasi kebiadaban. Tidak akan pernah karena kekuatan senjata. Tidak akan pernah dengan kekuatan militer dan aksi polisionil.
Proyek politik untuk membangun Indonesia ini hanya bisa dibangun dengan keadaban. Oleh masyarakat sipil yang bermartabat.
Bangsa-bangsa yang besar meletakkan fondasi dan jiwanya pada keadaban. Bukan kebiadaban.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10157136895048533&id=784153532

Komentar
Posting Komentar