Langsung ke konten utama

Hutan adalah Tempat Keselamatan Pertama Bagi Pengungsi

Hutan adalah Tempat Keselamatan Pertama Bagi Pengungsi. Kisah Nyata.

Saya merasa sedih, ketika mendengar masyarakat yang sedang dalam pengungsian, karena  serangan Manusia Berkekuatan Besi di Ndugama, Intan Jaya, Maybrat ,  Puncak 'Pengununggan Bintan dan Yahukimo. Saya pernah mengalami bagaimana  orang mengungsi dari kampung halaman yang tak bisa ditinggalkan entah itu lahannya, ternak, dusun dan juga lebih parah lagi Se-keluarga tidak baku dapat saat berlari mencari keselamtan di Hutan rimba.
Mendengar dan merenungkan Bagaiman rasanya orang yang berlarian dihutan karena ketakutan serangan manusia yang  tidak mereka kenal . Jalan satu-satunya keselamatan utama adalah bersembunyi dihutan rimbah , Tak ada suara sanak saudara  yang terdengar hanya suara burug dan tembakan bertubi-tubi juga asap menyerbar dimana-mana ibarat Kabut akibat pembakaran rumah-Rumah warga dan menembaki ternak-ternak babi lalu dibuang kedalam api yang menyala-nyala, kecuali gereja yang ditinggalkan untuk mereka mejadikan rumah tidur.
Tiada telpon, tiada buku untuk menulis dan menelpon meminta pertolongan, satu-satunya adalah bersembunyi di semak dan hutan. Hutan menjandi Lembaga Bantuan Hukum, Sayur Pakis menjadi Makanan Utama dalam Hutan Penggunungan.  Tiada keselamatan  bagi anak kecil, yang ada hanya kematian  karena kedinginan dan kelaparan.
Saat itu saya berumur 11 Tahun, Kedua saudara saya 6 tahun dan satunya 1 Tahun 5 bulan, tidak kubayangkan  kejamnya manusia tak dikenal itu yang akan membunuh masyarakat, lalu saya membisik kepada mama saya, kita tetap disini tidak boleh lari ke hutan. Kalua kita lari ke hutan  kita makan apa? Bapa juga Masih di Jayapura  sedang kuliah di STT Pos 7 Sentani, Mama saya dan Nene orang tua kandung Bapa saya hanya diam dan Menangis termasuk beberapa ibu lainnya.
Saat itu kami mengikuti beberapa masyarakat dari satu kampung  berkumpul di Pingiran Hutan sambil mengecek keluarga lainya ,   saya sangat bingung karena mama saya tidak menangkapi apapun pembicaraan saya , tetapi Mama saya memeluk kami bertiga lalu menangis tidak ada kata-kata yang dia ucapkan.
Sekitar jam  2 siang sampai jam 5 sore   kami bertahan dipingiran dusun itu,   Memantau tindakan manusia bertangan Besi  ( tak dikenal) yang sedang beraksi membakar rumah-rumah. Pada jam 6 sore ada empat Bapak yang  mencari ubi di kebun sekitar pingiran kampung itu, tiga Pemudah dan satu Orang Tua Bapak ,Nene saya bersama 4 orang Ibu dan 8 orang anak kecil, kami semua disuruh berpindah ke tempat aman. Kami melakukan perjalanan menuju ke salah satu gubuk persebunyian di tenggah Hutan untuk kami tempati sebentara.
Perjalanan cukup jauh dan pada  pukul 06, kami mulai berjalan kaki menuju tempat yang ditunjuk sampai dalam perjalanpun kami dilarang untuk bersuara keccuali bisikan di telinga jika perlu bicara hal penting, sampailah digubuk persembunyian  pada pukul 09 malam, ternyata ditempat itu ada masyarakat  satu kampung juga yang mendahului, 3 orang laki-laki dan 5 perempuan bersama anak-anak dan 3 orang Bapak sedang keluar memantau manusia Bertangan besi sekalian mencari keluarga lainnya di kampung Welegome. Mereka menyambut kami dengan tangisan lalu memberikan kami makanan. Beberapa Jam  kemudian bapak-bapak yang mencari makanan bersama 3 orang tua yang keluar memantau dari gubuk dan juga ada rombongan lain yang mereka bersama-sama datang ke gubuk itu.
Sangat menyakitkan, setiap orang satu per satu datang ke gubuk itu,  tidak  menyamput dengan kata-kata hanya dengan tangisan dan pelukan. Gubuk kecil itu sangat tidak mungkin untuk tidur bersama-sama  kecuali Ibu-Ibu, nenek-nenek  dan anak kecil, sebagiannya tidur diluar. 
Keesokan harinya, pagi subuh masyarakat lain mulai bergerak kearah distrik Sinak Kabupaten Puncak Jaya dulu, sekaran Kab. Puncak, ada juga ke Mapenduma, Nolagi, Jigi, Mbua, dan kami Yang lainya  menunggu kabar keluarga  dari kampung  Nengeyagin, Nengeya,  Mume Upaga dan sekitarnya.  
Mama, saya dan kedua saudara saya, bingung mau kemana? Ke Distrik Sinak Tetapi kami belum pernah kesana dan belum tahu keluarga kami di sinak, hanya Bapa yang tahu keluarga yang ada di sinak, tetapi Bapa kami masih di Jayapura. Kami harus menunggu Om Kami adik kandungnya Mama, karena mereka di kampung Nengeyagin.
Beberapa keluarga yang tadinya sama-sama itu, mulai pamit entah kemana, tetapi kami masih  Menunggu sampai  siang sekitar jam 12 , bersama satu Bapak hubungan keluarga dekat pangkat om dan tiga orang ibu  satu istrinya Om'  mama saya, Nene saya (Ibu Kandung Bapa Saya) dan kami anak-anak 8 orang 5 diantaranya anak dari om, 3 lainya saya dengan adik-adik.
Kepedihan Hati tak bisa menahan, Airmata mama mengalir terus menerus ketika melihat mama, terpaksa saya harus menjauh  untuk tidak melihat tangisan mama Sebelumnya Pangkat Om saudara dekat dari Mama itu sudah katakan kepada kami,  untuk bersama-sama ke keluarganya di Sinak,  Namun keberatan hati Mama saya, karena banyaknya anak-anak dari om juga kami  mengungsi di satu rumah nanti soal makan seperti apa ? apakah tuan rumah akan tidak senang itu yang membuat mama saya keberatan dan harus menunggu kabar dari Tete ( Orang Tua Kandung Mama Saya) . Sekitar jam 3 rombongan pengungsi dari kampung Nengeyagin tiba di gubuk itu termasuk Tete kami melalui jalan rahasia dihutan, mereka datang dan memeluk kami dengan erat-erat lalu menangis.
Hati kami sedikit legah melihat mereka termasuk tete kami, hari semakin sore  terpaksa kami harus tidur yang kedua kali di gubuk itu. Kata dari tete kepada kami se keluarga “ saya datang hanya memastikan kalian tetapi kalian semua selamat jadi besok subuh kami harus jalan ke mapenduma karena Om dan keluarga sebagian sudah duluan melalui Kampung Negeyagin.
Namun mama saya keberatan, karena ke Mapenduma itu lebih jauh bisa memakan waktuu 5 sampai 6 hari kalu bersama anak-anak kecil dan paling banyak mendaki Gunung bagimana nanti kedua anak kecil, Juga Nenek ibu dari Bapa yang umurnya sudah tua,  apakah akan selamat atau mati kecapean, kelaparan , kedinginan. Tidak ada orang yang membantu untuk mengendong kedua Ade saya itu. Terpaksa kami  harus memutuskan untuk ke distrik sinak bersama pangkat Om saudara dekat dari mama.
Keberatan kami ke mapenduma juga karena Bapa kami di Jayapura, dan saat itu untuk berkomunikasi  dari Mapenduma ke jayapura agak sulit , karena akses komunikasi dan penerbanganpun belum dilayani disana. Untuk memudahkan itu semua, kami harus ke Sinak agar kami berkomukasi bapa dan dapat mengunjungi kami melalui Pesawat Nabire sinak atau jayapura_ Puncak Jaya.
Saat itu malam kedua bagi kami sekeluarga digubuk itu, kami bikin kelompok masing-masing, rombongan Bapak-bapak bikin api diluar sambing gubuk,  ibu-ibu dan anak kecil didalam gubuk dan kami anak-anak berumuran saya membuat pondok kecil di bawah Pohon diatapi daun-daunan. 
Setelah selesai membuat pondok  itu, kami bikin api dan kami langsung ketiduran, tidak ada satupun yang berdiri keculi di rombongan Bapak-bapak, mereka tidur bergantian untuk memantau. Sekitar jam 2 malam atap pondok yang kami buat itu terbakar akibat dedaunan yang kami buat itu mengering dan rendahnya atap. Hampir saja kami termbakar habis namun, salah satu teman kaget terbangun akibat api-api sisa kebakaran itu mengenai testanya dan berterik membangunkan kami semua. Kejadian itu kelompok orang tua tidak mengetahu, mereka melihat api menyala tetapi pikiran mereka api yang menjala itu kami yang membakarnya, saat teman itu beteriaklah baru mereka semua datang tetapi kami semua selamat kecuali teman yang mengenai testa ( luka ringan). 
Pada jam 2 stengah 3 Ibu-ibu mulai membersiapkan bekal (Membakar Ubi) untuk sarapan pagi juga bekal untuk persiapan dalam perjalanan, jam 4 subuh  dikumpukan didepan gubuk kecil itu, salah satu bapa berdoa makan sekalian berdoa untuk kami semua agar selamat sampai tujuan dengan baik. Makanan itu dibagikan dua-dua buah kepada anak kecil sedangkan orang tua cukup satu untuk sarapan, begitulah nasib pengungsi yang berlarian tanpa persiapan bekal.
Setelah kami sarapan, kami harus bergerak menuju Ke kampung sinak melalui Jalur Hutan tidak melalui jalan umum, karena burung besih terbang ( hellikopter) milik tangan besi ( milik orang tak dikenal) mengelilingi daerah Kwiyawage sedang memantau pergerakan.
Jalan menuju ke Sinak  selama 4 hari 3 malam, tidak termasuk 1 hari 2 malam di gubuk kecil itu. Pada hari pertama kami menyebrang kali Balim diantar oleh Tete kami dan dia harus balik bersama Bapak-Bapak lainya untuk memantau dan menjaga sebagian ternak babi dan kebun.
Malam pertama dan malam kedua kami bisa dapat makan satu ubi bagi stengah untuk dua orang anak-anak kecil, tetapi sayang sekali orang-orang tua  tetaplah bertahan tanpa makanan kecuali Pakis, malam  ketiga itulah kami tidak makan ubi satupun hanya Lobser rawa. Untung saja pada malam itu mama-mama berusaha keras untuk mencari lobser di air tawar dan lumayan banyak yang mereka dapat lalu memasak untuk makan malam.
Besok pagi tanpa makan apapun melanujutkan perjalanan sampai di wilayah Sinak Kampung Yugumi sekitar Jam 7 malam, disitulah kami bisa merasa nyaman sedikit, karena dikampung itu sudah menerimah pengungsi dari kwiyawagi sejak dari pertama. Kami dikumpulkan di halaman  honai hamba Tuhan lalu masyarakat setempat mengumpulkan makanan untuk kami makan
Setelah tidur di Kampung Yugumi pagi harinya kami harus melanjutkan perjalanan melewati dua kampung lagi untuk sampai di keluarganya Om itu. Sampailah dirumah keluarganya Om pada sore hari sekitar jam 5.
Keesokan hari kami disambut dengan bakar batu, sambil kami makan tuan rumah itu berdiri sambil menangis lalu katanya “ Telur  itu bisa peca ketika diinjak atau di Jatuhkan, tetapi kami Manusia tidak seperti telur yang mudah Pecah”  maka itu kalian yang datang pengungsi dirumah saya ini janganlah kalian takut, ini rumah kalian lahan milik ku juga milik kalian, jangan pernah takut soal makanan.
Hal ini dia katakan karena ; pangkat Om menceritakan kisah  saya bersama kelurga  digubuk kecil itu kepada tuan rumah tentang keberatan kami mengungsi di sinak tanpa keluarga yang kami kenal.
Begitulah kisah cerita Buruk yang dialami ketika tangan besi dan besi terbang mengambil alih di kampung  halaman.


Bersambung…..









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labirin Luka Di Bumi Koloni

Labirin Luka Di Bumi Koloni Post Aleks Giay Luka tak akan melihat betapa senyapnya harimu merayakan perihnya dan luka takan pernah berhenti ngilu tanpa kamu yang membalutinya sendiri. Nanar luka membuncah dalam busung dadamu menahan kepedihan dan setianya menyimpang pada relung hati yang terkulai melihat kezaliman penjajah. Kebenaran atas nama masa lalu suatu bangsa ialah luka bagi bangsa kolonial untuk terus menyayati jiwa-jiwa di bangsa koloni dengan tingkap jahanamnya. Cerita panjang terpajang di dinding zaman ke zaman dalam legenda bangsa- bangsa terjajah di jagat raya ini. Bawasanya telah di wahyukan pada suatu negeri koloni akan di lukai dan terus akan terluka dengan laku jahanam tirani melalui tangan jahil serdadunya. Apapun bentuk wajahmu di mata penjajah dalam semua di mensi kehidupan akan terbaca sebagai binatang buruan. Hal itulah yang tercacat dalam buku-buku tua bagi wilayah jajahannya. Popor bedilnya selalu akan melerai dada dan timah bedilnya kapanpun di letuskan...

MRP Menjual Tanah Masyarakat Papua Melalui Jalan Trans Papua

MRP Menjual Tanah Masyarakat Papua Melalui Jalan Trans Papua. Oleh: proletar. MRP Kurang Analisis yang mendalam Dampak Dari Jalan Trans Papua. Menangkapi Sikap MRP pada tanggal  09 Desember 2019 Menyepakati Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berencana menyerahkan pembangunan Jalan Trans Papua di beberapa titik rawan kepada TNI. Majelis Rakyat Papua (MRP) menyatakan bahwa hal itu merupakan solusi yang tepat untuk mempercepat pembangunan di Papua. Saya sebagai Anak Papua Kesal Terhadap Majelis Rakyat PAPUA yang Kurang Analisis dampak dari Jalan Trans Papua yang rencananya Dibekap Oleh TNI. Selama ini MRP mengkampanye melalui Media Radio, lisan Tulisan untuk Masyarakat Papua agar Tidak Menjual Tanah sembarang. Maklumat Melarang Menjual Tanah Tetapi, Menyetujui Pembangunan Jalan Trans itu Hal yang tidak masuk Akal karena, Ketika pembongkaran jalan dari satu kampung ke kampung lainnya  otomatis Para Pemodal akan berbondong-bondong membawa uangnya ke...

Perempuan Papua Dalam Perjuangan Hak Menentukan Nasib Sendiri

Perempuan di tengah aksi massa di moment Hari Kemerdekaan Papua Barat, 1 Desember 2015, di bundaran Hotel Indonesia, Jakarta./Doc. amp Penulis:  Nipson Murib* Perempuan Papua yang  selalu dipandang rendah dalam pekerjaan atau  kepemimpinan, yang selalu dipikirkan oleh kaum  laki-laki bahwa perempuan ditugaskan di dapur dan mengurus anak-anak. Ungkapan dan tuturkata yang selalu diucapkan para laki-laki Papua terhadap  perempuan bahwa,  "Prempuan baru bicara banyak, Perempuan baru terlalu bikin diri hebat, Perempuan baru duduk dengan kelompok laki-laki, Perempuan duduk didepan laki-laki,  Perempuan baru nakal," dan ungkapan merendahkan lainnya yang selalu diucapkan oleh kaum laki-laki sejak turun temurun sampai saat ini. Demikian juga, kapitalisme  masih mengurung para perempuan dalam pekerjaan rumah tangga karena kerja ini adalah kerja gratis,  kerja yang tidak dibayar. Sistem Kapitalis membutuhkan buruh yang terawat dan juga bisa b...